Startup yang bergerak di bisnis penginapan online, Airbnb, ternyata telah mengalami kerugian yang sangat besar. Hal ini dikabarkan akan menimbulkan keraguan para investor saat Airbnb mempunyai rencana untuk masuk ke dalam bursa saham di tahun 2020 mendatang.

Seperti disalin Luqmanul.com dari laman Fox Business, The Information, mengabarkan bahwa kerugian yang didapatkan oleh Airbnb pada kuartal I 2019 mencapai US$ 306 juta atau setara dengan Rp4,3 triliun. Angka ini naik dua kali lipat jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Anggaran yang disediakan di bidang marketing dan sales meningkat drastis menjadi 58% hingga US$ 367 juta. Kalau ditotalkan, pengeluaran untuk kuartal itu meningkat hingga 47% sedangkan untuk pendapatan hanya naik sekitar 31% saja.

Pada saat dikonfirmasi, Airbnb tak mau menjelaskan tentang naiknya pengeluaran mereka. "2019 merupakan tahun investasi besar untuk mendukung tuan rumah ataupun tamu penginapan," kata mereka.

Kondisi keuangan ini kemungkinan akan membuat Airbnb menjadi tidak menarik bagi investor. Apalagi, startup sejenis seperti Uber dan Lyft memiliki nilai saham yang juga terus jatuh. Mereka pun juga masih mengalami kerugian dan masih dalam proses pembakaran uang untuk bisa menarik para pelanggan.

Namun walaupun mengalami kerugian yang cukup besar, Airbnb masih mempunyai persediaan uang tunai sebesar US$ 3 miliar. Mereka juga masih mempunyai potensi besar untuk mendapatkan dana dari para investor.